ATHEIS, My First Book Resume of The Year

Hello, good people! However, last Mother’s day I wrote a post about story of my inspiring mom whom I love the most. But wait, You have read it, haven’t you? If you haven’t read, just scroll down this post. Aaaand this post gonna be my first post in 2018, yeay!

Happy new year!

This is my 26 new years. So, what I am gonna tell you is about my newest resolutions. Yes. I still wrote some resolutions for this year with some detail actions to make it happens insyaAllah. One of them is about ‘one month one post’!

Lucky me that since last year I have been participating in a community called ‘Indonesia Membaca’ that accomodate every members to read one book in a month and force them to resume their book, just one post in a month. What a good idea, isn’t it?

Here we go, this is my first post of the year and my first resume (published in my blog).

ATHEIS

Buku ini bisa dibilang buku sastra yang pertama kali saya baca belasan tahun silam (duh, jadi keliatan tua-nya). Jadi dulu ada tugas membuat resensi untuk pelajaran Bahasa Indonesia, dan saya pilih buku ini untuk dijadikan bahan tugas saya. Yang saya ingat waktu pertama menyelesaikan buku ini, saya merasa bukunya keren, tentang bagaimana seorang muslimin yang mengalami pertentangan batin karena dihadapkan dengan lingkungan baru yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, ceritanya unik karena saya belum pernah tahu yang seperti itu dan jadi bahan pengetahuan aja sih kala itu. Jadi, keren-nya karena itu aja haha. Kemudian saya berjodoh lagi dengan buku ini setelah beberapa minggu lalu gak sengaja menemukannya dirumah teman, dan langsung pengen pinjam dan baca lagi. So, here we go…

Atheis, merupakan kisah seorang laki-laki yang beriman dan dapat dikatakan taat dalam menjalankan ajaran agamanya, bernama Hasan. Hasan tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan yang islami oleh keluarga yang sangat peduli terhadap pendidikan agama. Bahkan, Hasan kecil tidak terpengaruh teman-temannya yang nakal dan suka mengganggu saat di masjid. Sedari kecil, orangtua dan pembantu-pembantu di rumahnya selalu mengingatkan untuk melakukan hal yang diperintahkan agama dan azab neraka bagi mereka yang tidak ‘taat’ dan sering bermaksiat. Kisah-kisah tentang neraka yang tidak ingin saya sebutkan disini, menjadi pengantar tidur bagi Hasan setiap malam sekaligus cerita favoritnya – walaupun saya agak kurang setuju sih dengan beberapa cerita, kesannya terlalu menakut-nakuti anak-anak walaupun bisa jadi itu benar L

Itulah sekelumit kisah Hasan dimasa kecil, ketika Hasan sudah beranjak dewasa, ia pernah menyukai seorang gadis bernama Rukmini. Rukmini anak Haji Dahlan, walaupun ia belajar di sekolah Katholik, namun bekal agama dari orangtuanya tetap menjadikan Rukmini seorang gadis shalehah yang memiliki visi dan misi untuk memperjuangkan agamanya. Singkat cerita, Hasan terpikat pada gadis ini meskipun ia sadar kedua orang tuanya menginginkan ia untuk mencari istri dari kalangan yang setara yaitu bergelar ‘raden’ dan sebagainya. Belum juga Hasan membujuk kedua orang tuanya, Rukmini justru akhirnya menikah dengan saudagar kaya pilihan bapaknya. Pupus sudah harapan Hasan, sejak itu Hasan diliputi kesedihan, hingga ia memutuskan untuk mengikuti aliran yang dianut kedua orang tuanya, aliran tarekat atau mistik – begitu yang tertulis di buku ini. Betapa bahagia kedua orang tua Hasan, karena anaknya ingin mempelajari aliran mistik yang selama ini dilakukan mereka. Sementara bagi Hasan, ini adalah satu-satunya cara untuk mengalihkan dirinya dari patah hati dan harapannya bersama Rukmini.

Hingga tibalah hari itu. Mengambil settingan di zaman penjajahan Belanda, hari yang bisa dibilang akan mengubah hidup Hasan untuk selamanya. Hari perjumpaannya dengan Rusli, sahabat kecilnya, di kantornya. Hasan yang sudah dewasa tinggal dan bekerja di Bandung, berjumpa dengan Rusli yang pada saat itu baru pindah dan ditemani seorang wanita yang diakunya sebagai adik kepada Hasan. Berbeda dengan Hasan, Rusli kecil terkenal sebagai anak yang nakal dan tidak nurut dengan perintah agamanya, baik itu shalat lima waktu, maupun perintah agama lainnya, namun orang tua Rusli seakan membiarkannya. Hasan yang awalnya terpesona dengan penampilan Rusli dan terlebih wanita yang bersamanya, Kartini, kemudian tidak sanggup menolak undangan Rusli untuk datang ke rumah barunya di Bandung.

Hasan dilema. Mungkin kata-kata itulah yang bisa mendeskripsikan perasaan Hasan bahkan sejak kunjungan pertamanya ke rumah Rusli. Hasan yang santri, Hasan yang laki-laki baik, Hasan yang tidak pernah menyentuh wanita, Hasan yang menganggap ‘bioskop’, musik, dan buku-buku selain yang bermanfaat bagi kehidupan akhirat merupakan racun agama dan membawa pada kekafiran. Pada pertemuannya dangan Rusli dan Kartini, seolah Hasan dipertontonkan pada manusia-manusia bebas yang selama ini belum pernah ditemuinya. Rusli yang masih membujang namun begitu dekat hubungannya dengan Kartini, janda muda yang kabur dari seorang rentenir Arab yang kaya raya. Tidak sampai disana saja, kebingungannya bertambah ketika ia diajak untuk menonton bioskop oleh kedua orang yang baru ditemuinya itu.

Ada-ada saja, mencari kebaikan di tempat kebusukan. Ya, tempat kebusukan, itulah satu-satunya arti bioskop, arti film, tempat kafir-kafir memberi contoh bercium-cium, berpeluk-pelukan atau berzinah. (hlm. 52)

Itulah yang ada dalam pikiran Hasan kala itu. Ia menolak tegas ajakan untuk menonton bioskop, namun tenyata hati dan pikirannya tidak bisa berpaling dari memikirkan apa yang dilakukan mereka bedua disana. Untuk pertama kalinya, Hasan tidak khusu’ dalam beribadah, segala ritual dilakoninya, namun paras cantik Kartini dan kedekatannya dengan Rusli yang menurut Hasan terlalu bebas dan tidak syar’i menjadi beban pikiran baginya. Pertemuan demi pertemuan dilakoni Hasan hingga jelas baginya sesiapa Rusli dan Kartini sebenarnya, mereka masihlah orang-orang baik yang diharapkan Hasan namun berbeda pandangan hidup dan kebiasaan. Ya, mereka atheis.

Secara terang-terangan mereka mengagumi kemampuan manusia yang semakin sempurna saja dan meniadakan keberadaan Tuhan yang menurut mereka dibikin-bikin saja. Pada awalnya Hasan ingin menjauh dari mereka berdua, namun ia bimbang, ditambah rasa cintanya pada Kartini yang semakin tak bisa ia tutupi. Baginya, Kartini mirip Rukmini yang pernah dicintainya, hanya sedikit perbedaan pandangan hidup diantara mereka berdua. Hasan bertekad, adalah jalan hidupnya untuk mengajak Rusli dan Kartini kembali pada jalan Tuhan, jalan yang lurus.

Buku ini banyak menjelaskan tentang apa-apa saja yang menjadi pandangan seorang atheis. Banyak diskusi didalamnya, Rusli digambarkan sebagai tokoh yang pandai dan berpengalaman dalam menyampaikan kembali pendapat-pendapat tokoh macam Karl Marx dan lainnya. Sayangnya buku-buku dan pengalaman Rusli hidup dan tinggal di lingkungan yang membesarkannya, salah satunya di Singapura tidak sebanding dengan Hasan yang mendapatkan pengajaran agama hanya dari apa-apa yang ia ketahui dari keluarga dan disampaikan Kyainya di kampung dulu. Maka pantas saja, saat pindah dan bekerja di Bandung, praktis Hasan tidak mempunyai obat hati yang cukup dalam mengatasi kegelisahannya, terutama kegelisahannya menghadapi orang-orang terlatih macam Rusli, Kartini, dan teman-teman mereka yang akan ditemuinya. Tidak seperti saat ini, dimana kita dididik untuk memahami Al-Qur’an dan apa-apa yang disampaikan didalamnya, sudah banyak kajian-kajian terbuka untuk memahamkan maksud yang terkandung dalam Al-Qur’an bukan hanya taklid buta saja. Pesan-pesan Ustad Zakir Naik dan Nouman Ali Khan tentang Al-Qu’an dan tujuannya sebagai pedoman hidup dan jawaban atas kekuasaan Tuhan sedikit banyak jadi bermunculan ketika membaca ini, bukan karena memang dibahas dibukunya, tapi karena banyak pemahaman yang disampaikan Rusli dan kawan-kawannya yang sangat tidak sepaham dengan saya pribadi.

Berhasilkah Hasan dengan niat baiknya untuk membawa ke jalan yang benar? Kalau kalian di posisi Hasan akan seperti apa jadinya? Menjauh kah dari orang-orang ini atau justru menempuh jalan yang sulit nan berbahaya seperti Hasan? Ini adalah tulisan yang masih keren untuk dibaca walaupun udah hampir seumuran dengan kemerdekaan Indonesia. Banyak hikmah yang bisa dipetik oleh pembaca terutama karena pembaca jadi banyak mikir tentang hidup dan bisa jadi mencari dan menemukan jawaban sendiri untuk pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan Rusli maupun Hasan. Kuy, baca sendiri bukunya dan rasakan sensasinya.

Atheis_novel_Achdiat_K_Mihardja

Sumber : wikipedia.com
Judul Buku : ATHEIS
Nama Penulis : Achdiat K. Mihardja
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun Terbit : Cetakan 28 – 2006
Jumlah Halaman : 250 halaman

 

 

Advertisements

IBUKU, INSPIRASIKU

ice_2017-12-22-22-32-44-321

(Trip pertama bersama ibu. Hanoi, 2015)

IBU

adalah wanita ini yang puluhan tahun silam kabur dari desa ke kota (kecamatan) untuk daftar sekolah SMA. Saat itu bukan hal yang menyenangkan ketika ibu kecil mengetahui bahwa ia sebagai anak bungsu dan perempuan satu-satunya akan berhenti mengenyam pendidikan cukup sampai SMP saja. Di dalam pikirannya berkata, “apa yang bisa diharapkan untuk mengubah keadaannya kelak, jika ia saja tidak bersekolah?”.
.
Bukan ibu namanya jika tidak melakukan sesuatu. Dan benar saja, dengan sepedanya, ibu sendirian menuju ke kota untuk mendaftar SMA secara sembunyi-sembunyi dan diterima. Ibu pulang kerumah dengan takut-takut, membawa selembar kertas kepada bapaknya yang menyatakan ia diterima di sebuah sekolah di kota. Akhirnya, ibu kembali bersekolah. Tidak tanggung-tanggung, ibu kali ini ngekost, suatu hal yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Bagaimana dengan bayar sekolah? Dimana ada niat, disitu pasti ada jalan, pikirnya. Ibu tidak menyerah, pengalaman menemani ibunya (nenekku) untuk berjualan dipasar menjadi sebuah skill yang sangat berguna kala itu. Ibu juga pernah bercerita padaku, bahwa ia pergi kepasar dan membeli selembar kain putih, kemudian hanya dengan melihat dan mempelajari pola seragam sekolah teman-temannya, ibuku  yang tidak pernah kursus menjahit – pun tidak tau adanya mesin jahit kala itu, menjahit baju seragamnya sendiri secara manual. Itulah ibu, tidak akan berkata ‘tidak bisa’ jika belum mencobanya sendiri. 
.
“SMA saja tidak cukup!”.
Entah apa yang membuat wanita ini begitu bersemangat. Ibu sudah lulus SMA, kali ini sang bapak pergi ke kota untuk menjemput anaknya di kost yang tak kunjung pulang padahal ia sudah diwisuda. Dan benar saja, ibu remaja tak ada. Kali ini ia pergi ratusan kilometer jauhnya, ke kota yang menjadi tujuan bagi siapa saja di negeri ini mencoba peruntungan hidupnya. Ibukota Jakarta.
.
Ya, itu ibuku. Sepanjang malam berdiri berdesakan dalam kereta ekonomi menuju ibukota. Ia mendatangi kakaknya yang sedang merantau dan bekerja untuk mendapat kehidupan yang baru. “Aku ingin kuliah”, kata ibu. Sang kakak menyanggupi untuk membantu biayanya dengan syarat, ibu bisa diterima sekolah negeri. Ah Ibu, mengapa kau begitu bersemangat? Sebegitu pentingkah pendidikan bagimu?.
.
Dengan izin Allah, ibu diterima di pendidikan Bahasa Inggris IKIP Jakarta (saat ini berganti nama menjadi Universitas Negeri Jakarta) dengan beasiswa. Alhamdulillah. Beasiswa demi beasiswa diraihnya hingga gelar S2 dan pernah dilantik menjadi seorang guru berprestasi. Wanita yang sama yang bekerja keras dengan segala kesibukannya menjadi seorang istri dan mengurus tiga gadis kecilnya. Ya, wanita ini ibuku.
Ibu, kami bangga padamu!.
.
Lalu apa itu saja cukup?
Tidak. Ibu bilang, ia masih punya mimpi lain. “Ibu mau keliling dunia!”.
.
Sebelum aku tanyakan caranya, ibu sudah melakukannya. Kini sudah 18 negara dan  insyaAllah akan terus bertambah.
IMG_20161222_063613

(Solo traveling ibu ke Eropa. Paris, 2016)

Ibu selalu bilang, “Jika bukan sekarang, kapan lagi?”
Pernah aku bertanya, “Bagaimana ibu bisa seyakin itu?”
Dan jawaban ibu yang paling kuingat adalah “Lakukanlah dengan hati! Selalu ada tempat bagi ia yang bersungguh-sungguh. Kan ada Allah, Allah is the best guide”.
.
Terima kasih Allah, karena sudah menitipkan aku padanya.
Terima kasih ibu. Terima kasih untuk setiap inspirasinya untuk kami anakmu. Tentang menjadi pribadi yang kuat, tentang keberanian untuk keluar dari zona nyaman, tentang pentingnya pendidikan, dan tentang mimpi yang harus terus diperjuangkan. Aku bangga padamu dan semoga kelak aku bisa membuatmu bangga.
.
Suatu hari pernah aku sampaikan, “Ibu, aku mau jadi pengusaha saja. Fokus di bisnis travel”
Disaat orang tua lain merasa ‘eman-eman’ melihatku yang bersusah payah kuliah di universitas terbaik namun memilih memulai segala sesuatunya dari nol.
Apa kata ibu?
“Kerja boleh apa saja, kalo kamu fokus dan sungguh-sungguh pasti bisa sukses lewat jalur manapun. Pilih yang kamu sukai, ibu doain.”
.
Thank you ibu, having you by my side is amazing
.
Here’s to strong woman
May we know them.
May we be them.
May we raise them.
.
Selamat hari ibu!
.
22 Desember 2017
@mustikakiky
—-
Untuk semua ibu dan calon ibu, apa inspirasi ibu bagimu? yuk ikut menuliskannya seperti saya.
2017-12-05-134909-untitled-1-07.jpg
#hariibu #saliha #karenaibu #kompetisiblogsaliha #ibukuinspirasiku

Turning Point

Last monday is kind unusual day for me because that was my last day working as Business Analyst in EUI. Yes, I did resign. Don’t ask me why because that’s not what I would write about.

This decision turned my whole time as before I began my work. It’s a good news that I have so much time talking with my family, ‘be there’ for them, begin to recite Qur’an again as targeted and etc etc. Nonetheless, I’m jobless now and have to prepare myself for a better job because I don’t wanna bother my parents financially as happened many times before.

Am I regret? of course no. I had deep consideration and thought about it very well. This is my turning point that I have to recall every missions in my life and prepare everything as a target. Thank God that it’s a new year in calendar. So, It’s easy for me to make a new timeline of my life and new resolutions. I wrote down every resolutions and I’m gonna make it in time (it’s a must).

So, this 2016 is gonna be a career year for me since I plan to focus to find the right one for me. I prefer to work in Lampung since I have another mission here but I truly understand that “Life begins at the end of comfort zone”. So, I will let Allah choose career for me wherever He wants because I believe He knows what career fits in me in the right way.

Finally, here I am…

I choose to take one step backward before moving forward -Kibund

Shalihah

Sumber: google.com

Sumber: google.com

There was a night in last Ramadhan, my sister told me that she would wear hijab after Idul Fitri day. Before that moment, I had a feeling that it would happen, so, I wasn’t surprise at all.  I smiled to her and said “alhamdulillah, you’re on the right path dear”, but for my family, It’s kinda sudden act for them, they were worrying that she might change her mind in the middle of her school, they keep asking “are you for sure?” “don’t you think it is so fast?” “how about postpone till you’ve graduated from highschool?” and any other questions which possibly made her undecided…

I do know that hijab is mandatory for muslimah, and she does know too. However, I never intend to force anyone to wear it since it’s their own choice to obey or not with God’s rule. The only thing we can do just remind them and pray for them that Allah can change their heart to obey it.

Ingatkan dan berdoa untuknya 🙂

Couple days later, she came to me and asked me this, “Someone tell me to wear hijab after graduating from high school which means 3 years later. What do you think?”

Then I answered her softly, “Dear, if there’s a goodwill, you should not postpone it, shouldn’t you?”

Kalo punya niat baik, jangan ditunda ya!

Then, she smiled at me and I knew she felt better at the moment.

But, the struggle didn’t stop there, I understood that it wasn’t so easy choosing to cover up your body with jilbab and hijab while most of your friends at your age (she is 14 years old actually) wear short simple dress and elongate their hair with no worry to hide it inside hijab. I know she is not a girl who care so much about this, she usually picks only short sleeve t-shirt and jeans, and now she should ensure that her clothes cover up from head to toe. Yes, it is definitely difficult at the first time even she didn’t tell me.

However, I see her not as a perfect girl because we all know that nobody’s perfect. Her choice to wear hijab doesn’t mean that she has been perfect already or she must be perfect after doing that, it’s not something like that. I can see that it is an act that she is learning to obey what Muslimah should do. In line with that, she also want to improve herself to be better as what we are doing now in this world…It is a must that everyday we upgrade our faith (iman) and worship since there are so many things to be grateful for.

Back to her, in other night she asked me to tell her a story, It is common for me telling her a story before sleeping since she was toddler. So I chose this story,

One day there is a women who wake up from her sleep and sees a beautiful place around her. The place is like a beautiful park which she never know before. She is wondering where she has been up to until she sees a women and ask her

A: halo sister, can you tell me where we are now?

B: (smile) We are in a waiting space to paradise, sister.

A: Ah really? This place is so beautiful and I couldn’t imagine how amazing the paradise will be like…

B: Yes, you’re right. What have you done on earth which bring you to paradise, sister?

A: When I was on earth, I did social charity to many orphans children, how about you, sister?

B: I did the same, that’s why we are in the same place now.

Suddenly, there are some doors open and show the light to the people…

B: Come on, the door already opened, now we can move to the real paradise, be hurry! (running so fast)

A: (running) Why it is so difficult for me to follow you? It is like I am not moving at all to come to that door…What are good deeds you have done?

B: (already arrived in front of the door) I did the same as you did…

A: (still far away from the door) What brought you there? What make us different?

B: You’ve already known, I wear hijab and you don’t. That’s the only thing.

A: But I had goodwill to cover my body with jilbab after covering my heart.

B: That’s the point, because you  only cover your heart , so, let the paradise will be only in your heart…

Then B move through the door and leave A.

I took this story from facebook (with modification) and it might be only an illustration or fiction but we may take a lesson from the woman that she was trying to be good in every way but she couldn’t accept one of His rule to cover up her body with jilbab. (See Al-Ahzab: 59 and An-Nuur: 31)

You may take moral message from this story by your own perspective, but I told her to always remember this story and remind that the reason why we should wear hijab is to obey to Him, to get His blessings, and to be in paradise in the end of the day.

Now, it has been 2 months since my sister lives with her hijab. I know it’s still new but I am so happy that sometimes she also corrects my hijab. We’re not perfect but having two sisters who has the same life mission is very valuable. I am so grateful of it.

The last but not least, thank you for every sisters in Islam who always give me lessons to be better everyday. I am not perfect nor know everything. But I realized that as long as I have time, there’s always chance to learn, to upgrade my faith, so I hope everyone does too. See you all in His jannah ya, shalihah!

saling mengingatkan dan mendoakan ya!

Which of The Favour of Your Lord Will You Deny ?

In these days I am liking watching some short movies from Want Production on youtube. This channel provides inspirational Islamic stories happened in our daily activities. However, today I want to tell about a short movies titled “Salah Sedekah” or can be translated as “Wrong Shadaqah (voluntary charity)”. This is the story about a man who has just fired from his job a month after his father lost his job. Whereas, he has two sisters who currently studying at senior high school and tertiary education. As consequent of this, he feels dilemma and sells his motorbike to help his family financially. As days become so hard, he gives small shadaqah in some mosques and expect he will get better situation. But, nothing changed.

In his prays, he asks himself why his shadaqah doesn’t works as everybody does. Then at his peak of his stress, he begins to blame himself…and God. Until one day, he sees a cleaning man brings much money to an official charity institution for Al-Qur’an memorizer, or institution for hafidz/hafidzah. He asks the man why he gives much money to that institution whereas life is getting so hard now. With humble, the man says that he gives his money to best generation who “keep qalamullah” or Al-Qur’an memorizer, hopefully, the man will get blessings from God for what he has done. He keeps asking why must be so much money? Why the man believe that God would reply what the man has done? In his mind, because he has been doing shadaqah and nothing changed. Never.

Wisely the man says, “The first thing you should do is believe. Believing that God knows what best for you, you may think nothing is changed, but sometimes, God wants to surprise you with more than you expected before. Just be positive. It can be something you don’t expect for but something different like health, love, and something you don’t notice before.”

The man has brightened him. After that, he comes to the same charity institution and give his best amount of money and keep trusting to God that He will decide what best on him. Subsequently, suddenly his sister calls him to inform that their father has an attack and should be hospitalization. It becomes harder for him. He feels worse but resigned and keep praying to God, he believes that there’s an ease after difficulties. Few days later, accidentally he is meeting his father’s friend in the hospital. The man tells that some years ago his father helped the man’s career and the man feels like being indebted to his father. Knowing that now the situation reverses, the man intends to help him to go out of his financial problem. Yes, he gives him a job. Not so long after this, his father’s condition becomes better, his sister has graduated from the university, and their financial becomes better and more.

Which of The Favour of Your Lord Will You Deny ?

Which of The Favour of Your Lord Will You Deny ?

Which of The Favour of Your Lord Will You Deny ?

Finally, these words spell loudly in his mind. That God never broke promises. That there is no favour will we deny. That there are eases after difficulties. That we are loved by The Owner. Just be positive.

For the completed story, you may watch this short movie here

Another book ?

Erasmus+ scholarship

CRC-New-books-banner

Beberapa bulan yang lalu, dari hasil kumpul-kumpul dengan beberapa alumni Erasmus Mundus, ada wacana untuk menuangkan cerita dan pengalaman selama masa kuliah di Eropa ke dalam sebuah buku.

Konsepnya mungkin akan agak berbeda dari buku yang pernah diluncurkan sebelumnya (bisa refer ke https://emundus.wordpress.com/2011/07/18/beasiswa-erasmus-mundus-the-stories-behind/).

Namun, karena masih wacana, dan belum tahu akan diwujudkan atau tidak, maka berikut adalah salah satu kisah yang ingin saya share di dalam buku. Kisah berikut ini adalah salah satu cerita adalah mengenai peristiwa-peristiwa yang saya rasakan “ajaib” selama kuliah di Eropa.

Judul: Secangkir kopi untuk nilai A?

Your attitude, not your aptitude, determines your altitude (Zig Ziglar)

Di universitas saya di Italia, setiap pengajar memiliki preferensi masing-masing bagaimana mereka akan memberikan penilaian.

Bisa berdasarkan nilai absolut (misalkan nilai ujian di atas 90 dapat A, antara 80-90 dapat B, dst).
Bisa juga berdasarkan statistik kelas (misalkan 2% nilai terbaik di kelas dapat A, atau nilai rata-rata ditambah…

View original post 415 more words